OUR NETWORK

Wilhelmina Park, Taman Penuh Ringkasan Sejarah di Pangkal Pinang

Pernah dengar gak Wilhelmina Park? Bagi kamu warga Pangkal Pinang, Bangka Belitung pastinya sudah tidak asing lagi dengan taman yang satu ini. Wilhemina Park atau yang dahulu bernama Taman Sari Pangkal Pinang itu adalah sebuah taman bermain dan juga wisata edukasi. Wilhelmina sendiri adalah nama dari Ratu Belanda, yang juga dijadikan sebuah nama sebuah taman di Batavia atau yang sekarang bernama Jakarta. Untuk lokasinya sendiri Wilhelmina Park berada sekitar 50 meter dari rumah dinas wali kota Pangkal Pinang, tepatnya persis di depan Alun-Alun Taman Merdeka atau yang biasa disebut dengan nama titik nol Kota Pangkal Pinang.

Sumber: www.rakyatpos.com

Di Wilhelmina Park para pengunjung bisa menghirup udara segar, karena taman yang satu ini banyak ditumbuhi pepohonan rindang yang hijau. Selain itu di sana para pengunjung juga akan menjumpai banyak prasasti yang menceritakan beberapa perjuangan dan perjalanan sejarah bangsa Indonesia, baik di era perjuangan melawan penjajah atu pun di era perang mempertahankan kemerdekaan. Menurut informasi, semua rangkaian peristiwa bersejarah yang ada di Wilhelmina Park ditulis oleh ahli sejarah asal Bangka Belitung, Akhmad Elvian.

Prasasti di Tengah Wilhelmina Park

Sumber: carapandang.com

Pertama-tama, di tengah Wilhelmina Park ada sebuah prasasti berupa bangunan tinggi menjulang berbentuk kerucut berwarna putih. Pada prasasti tersebut tertuliskan surat kuasa atas kembalinya Republik Indonesia yang diserahkan langsung oleh presiden pertama, Ir. Soekarno kepada pimpinan D.I Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada bulan Juni 1949 yang lalu.

Pemindahan Ibu Kota Bangka

Kemudian ada juga prasasti yang menceritakan pemindahan ibu kota Bangka Belitung. Dikisahkan bahwa pada zaman dahulu ibu kota keresidenan Bangka Belitung berada di Muntok, namun pada tahun 1913 dipindahkan ke Pangkal Pinang. Tidak hanya perubahan letak ibu kota, pemindahan tersebut juga berdampak pada pemisahan administrasi pemerintahan kolonial dan pengelola pertambangan dengan cara pendirian organisasi Banka Tin Winning Bedryf (BTW). Setelah pemindahan ibu kota tersebut, Residen Bangka diganti dari RJ Boers kepada AJN Engelenberg.

Perjuangan Depati Amir

Selain itu ada pula prasasti yang mengisahkan perjuangan dan kegigihan dari Depati Amir dalam melawan penjajah kolonial Belanda. Depati Amir adalah putera sulung dari Depati Bahrin yang lahir pada tahun 1805 yang lalu. Kemudian baru pada 1830 Depati Amir diangkat sebagai depati atau setingkat bupati di Bangka. Berstatus sebagai seorang pejabat, Depati Amir justru tidak bersedia berteman dengan Belanda yang dianggap serakah dan semena-mena. Ia pun kemudian menghimpun masyarakat Bangka agar bersedia melakukan perlawanan terhadap Belanda. Perlawanan masyarakat Bangka yang cukup sengit membuat Belanda mulai khawatir dan mengumumkan Bangka sebagai daerah darurat militer atau staat van beleg. Kemudian Belanda juga menjadikan Depati Amir berstatus sebagai seseorang yang paling berbahaya di Bangka sehingga setiap gerak-geriknya harus selalu diawasi.

Pengasingan Depati Amir dan Depati Hamzah

Sumber: Instagram@asep_urban77

Dalam prasasti lainnya diceritakan bahwa Depati Amir dan adiknya, Depati Hamzah berhasil ditangkap Belanda dan diasingkan ke Kampung Airmata, Kupang, Nusa Tenggara Timur. Keduanya diberangkatkan ke Kupang dengan menggunakan kapal uap Onrust pada 28 Februari 1851 yang lalu. Keduanya juga tidak ingin tinggal diam selama di pengasingan, dan menurut informasi mereka kemudian menyebarkan agama Islam di Pulau Timor. Usai diasingkan di Kampung Airmata, keduanya dipindahkan ke Bonipoi, Kota Lama, Kupang dan di sana mereka mendirikan sebuah masjid yang diberi nama Al-Ikhlas.

Perjuangan Bung Hatta di Pengasingan

Di monumen lainnya diceritakan mengenai pengasingan wakil presiden Indonesia pertama, Bung Hatta di Pulau Bangka bersama dengan RS Soerjadarma selaku kepala staf angkatan udara, ketua KNIP MR Assaat, dan sekretaris negara Mr AG Pringgodigdo. Keempat tokoh itu kemudian dinamakan dengan Kelompok Bangka atau Trace Bangka. Melalui diplomasi dan dibantu oleh United Nations Comission for Indonesia, dari Kelompok Bangka ini lah kemudian lahir perjanjian Roem Royen pada 7 Mei 1949.

Monumen ‘Pangkal Pinang, Pangkal Kemenangan’

Sumber: Instagram@asep.sundamar

Monumen itu berisi kisah mengenai persetujuan Belanda tentang kembalinya pemerintahan Indonesia ke Yogyakarta berdasarkan perjanjian Roem Royen. Dengan demikian Bung Karno yang juga ikut diungsikan ke Bangka akan kembali ke Yogyakarta sebagai pusat pemerintahan Indonesia. Sebelum berangkat ke Yogyakarta, Bung Karno menyempatkan diri untuk berpamitan dengan masyarakat Bangka di depan Masjid Almuhajirin, Pangkal Pinang pada 6 Juli 1949 yang lalu. Pada kesempatan itu di awal pidatonya Bung Karno sempat mengatakan ‘Pangkal Pinang, pangkal kemenangan bagi perjuangan’.

Comments

Loading...