in

Menyelusuri Kenangan Kota Tua Menggala Sebagai Ibukota Lampung Pertama

Sumber Gambar: duniaindra.com

Kota Tua Menggala merupakan tempat yang paling bersejarah di Lampung. Di kota tersebut tersimpan berbagai macam peristiwa yang cukup mengenang dan sulit untuk dilupakan. Kota tua ini juga menjadi kota penting dalam Provinsi Lampung. Kota Menggala ini merupakan ibukota Lampung yang pertama.

Awal mula keberadaan dari kota tua ini cukup lama untuk daerah Lampung. Kota Tua Menggala menjadi kota paling tua yang ada di Lampung. Keberadan dari Kota Tua Menggala ini telah ada sejak abad 15 – 16. Umur dari Kota Tua Menggala ini telah mencapai hampir 5 abad.

Lalu untuk Kota Menggala ini sangat melekat akan status sebagai kota tua. Ada beberapa pertimbangan untuk julukan Kota Menggala ini. Salah satu faktornya yaitu di kota ini masih mempertahankan rumah adat.

Jadi saat memasuki area Kota Tua Menggala akan disuguhkan dengan view rumah adat. Jenis rumah adat yang terdapat pada Kota Tua Menggala ini yaitu rumah panggung.

Sebagian besar penduduk yang ada di Kota Menggala lebih memilih untuk membangun rumah adat daripada rumah minimalis. Sehingga di kota ini perbandingan antara rumah minimalis dan rumah adat, masih banyak rumah adat / rumah panggung.

Sedangkan untuk bangunan dengan konsep modern lainnya hanya terdapat beberapa unit. Untuk rumah / bangunan dengan konsep modern yang dimaksud yaitu bangunan / rumah yang tidak mengandung unsur adat.

Kota Tua Menggala ini memiliki suatu sejarah yang cukup berpengaruh terhadap perkembangan kota pada saat ini. Terutama sebagai salah satu kota dagang tertua dan menjadi pusat perdagangan hingga saat ini. Di bawah ini adalah sejarah akan perkembangan Kota Tua Menggala dari masa ke masa.

Kota Tua Menggala Di Masa Kerajaan Banten

Saat Kerajaan Banten tengah mencapai masa kejayaan, wilayah kekuasaan dari Kerajaan ini pun diperluas hingga ke daerah Lampung. Salah satu wilayah Lampung yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Banten yaitu tua Menggala.

Kota Tua Menggala yang masuk ke dalam wilayah kekuasaan dari Kerajaan Banten, tertulis dengan jelas pada sebuah catatan kuno. Catatan tersebut yaitu catatan Tomè Pires. Di dalam catatan kuno tersebut menyatakan bahwa terdapat sebuah kerajaan di Jawa Barat, yaitu Kerajaan Regño de Çumba / Kerajaan Sunda. Kerajaan Sunda memiliki beberapa pelabuhan perdagangan yang terdapat di wilayah pantai Utara.

Wilayah perdagangan dari Kerajaan Sunda pun bukan hanya sekedar wilayah Nusantara, namun juga di luar wilayah Nusantara. Salah satu akses perdagangan Kerajaan Sunda yaitu Tulang Bawang. Hubungan perdagangan antara Kerajaan Sunda dan Tulang Bawang yaitu transaksi jual beli lada / merica.

Sayangnya Kerajaan Sunda mengalami kemunduran. Lalu sebagian aktivitas dari Kerajaan Sunda digantikan dengan Kerajaan Banten. Saat Kerajaan Sunda mengalami kemunduran, Kerajaan Banten berada di bawah kepemimpinan Sultan Hasanudin.

Pada masa Sultan Hasanudin wilayah kekuasaan Kerajaan Banten berhasil diperluas hingga ke Sumatera Selatan. Hasil panen dari lada pun menjadi meningkat secara drastis, terutama di daerah Tulang Bawang, Lampung. Kemudian Kerajaan Banten memperluas akses perdagangan lada hingga ke daerah Eropa, China dan India. Karena hal itu lada menjadi komoditas ekspor yang paling penting.

Daerah Tulang Bawang Lampung mempunyai tanah yang mengandung lempung. Lempung sendiri sangat cocok dijadikan sebagai media tanam lada. Maka dari itu dengan hasil lada yang paling besar, Tulang Bawang diberikan hak khusus dari Kerajaan Banten atas tanaman lada.

Pusat perdagangan lada hanya sebuah bandar kecil. Bandar itu adalah Tangga Raja. Tangga Raja sendiri merupakan sebuah bandar yang terdapat di hampir setiap perkampungan Tulang Bawang. Dengan kata lain setiap wilayah perkampungan pasti mempunyai sebuah Tangga Raja.

Masa kejayaan akan Kerajaan Banten dengan hasil lada yang melimpah hanya berlangsung pada abad 16. Pada abad tersebut merupakan masa dari kedatangan Belanda untuk pertama kali di wilayah Tulang Bawang.

Kota Tua Menggala Di Masa Kolonial Belanda

Hingga Masa Kemerdekaan Indonesia Belanda datang untuk pertama kalinya pada 1668. Sejak kedatangan Belanda, Petrus Albertus dengan membawa VOC dan mendirikan sebuah benteng Fort Albertus di Kampung Kibang. Kemudian kondisi di Kota Tua Menggala yang masih berada di kekuasaan Kerajaan Banten berubah cukup drastis.

Pada masa kolonial Belanda, sebagian penduduk desa pindah ke Menggala, tepatnya di Kampung Ujung Gunung. Dengan kedatangan Belanda, bukan hanya penduduk desa yang pindah ke Menggala, namun juga penduduk Bugis dan Palembang.

Tujuan utama Belanda datang di daerah Tulang Bawang dan mendirikan benteng untuk menghindari dan mencegah serangan Palembang dan Bugis. Lambat laun Belanda pun mengubah tujuannya datang di Menggala dari penghindaran serangan ke monopoli perdagangan. Sebab Belanda telah mengetahui potensi perdagangan lada di Menggala sangat besar.

Tujuan Belanda dalam memonopoli perdagangan pun akhirnya berhasil. Bahkan wilayah perdagangan bukan hanya berada di Tulang Bawang, namun juga di daerah Sekala Brak dan Ranau.

Pada 1799, kekuasaan VOC pun akhirnya menurun. Namun bukan berarti kekuasaan dari Belanda juga turut hilang. Belanda pun mendirikan suatu maskapai pelayaran yang menghubungkan wilayah Jawa – Singapura. Lalu untuk komoditas perdagangan bukan hanya mengandalkan lada, namun juga kopi, karet, rotan hingga damar.

Dengan perkembangan komoditas perdagangan yang pesat, Menggala didapuk sebagai ibukota Lampung. Lalu di wilayah tersebut dibentuk suatu pemerintahan yang dipimpin Asisten Residen. Wilayah Lampung pun dibagi kedalam 6 kedewanan / onder afdeeling.

Sayangnya pada 1873, daerah Menggala mengalami penurunan, terutama dalam bidang perdagangan. Faktor utama yang menyebabkan penurunan tersebut dengan adanya transportasi kereta api dengan jalur Tanjung Karang – Palembang. Pusat transportasi tersebut yang juga dibangun oleh Belanda.

Sejak adanya kereta api, sebagian besar lebih memilih menggunakan jalur darat. Sehingga pusat transportasi tidak lagi bertumpu pada maskapai pelayaran dan telah pindah ke jalur kereta api. Menggala pun tidak lagi menjadi pusat kota dan berubah menjadi terpencil dan mengalami stagnasi.

Hal tersebut berlangsung selama puluhan tahun. Masa stagnasi berakhir setelah Kemerdekaan Indonesia.

Kota Tua Menggala Pada Awal Kemerdekaan Hingga Kini

Menjelang kemerdekaan Indonesia, Kota Tua Menggala mulai bangkit. Pada 1942 telah ramai orang yang mendirikan pemukiman. Kota Menggala pun dilakukan pembenahan dengan dibangun jalan dan pemanfaatan kembali fasilitas umum yang sempat terbengkalai. Bahkan di Menggala didirikan sebuah Universitas Megow Pak.

Setelah kemerdekaan Indonesia, wilayah Mandala menjadi bagian dari negara Indonesia. Dengan membentuk Kabupaten Tulang Bawang. Wilayah dari Kabupaten Tulang Bawang mencangkup 7 buah kecamatan.

Salah satu kecamatan dari Kabupaten Tulang Bawang yaitu kecamatan Menggala. Kecamatan ini terdiri atas 4 Kelurahan dan 5 Kampung.

Sejak wilayah tersebut resmi sebagai kecamatan, wilayah ini tidak mengalami perubahan apapun, terutama untuk bangunannya. Hanya saja pemerintah setempat memanfaatkan bangunan yang ada, khususnya untuk bangunan peninggalan Belanda.

Dengan adanya pemanfaatan tersebut, membuat Kota Menggala mendapat julukan sebagai Kota Tua Menggala. Arti dari kota tua mengarah pada sebuah wilayah yang dipenuhi dengan bangunan khas Belanda. Akhirnya Kota Tua Menggala pun menjadi wisata sejarah dengan konsep kota tua.