OUR NETWORK

Yuk Cari Tahu, Apa Sih Festival Tabuik Itu dan Apa Keistimewaannya

Source Image: Instagram @hambaa_allahhh

Tabuik adalah salah satu Festival akbar yang paling terkenal di Indonesia, diadakan di Pariaman, Sumatera Barat. Festival Tabuik ini sendiri dilakukan sebagai bentuk kebahagiaan menyambut Bulan Muharram dan juga memperingati wafatnya cucu dari Nabi Muhammad SAW yang bernama Hussein bin Ali bin Thalib, dimana tepat terjadi pada tanggal 10 Muharram. Tradisi ini sebenarnya sudah ada sejak sangat lama, bahkan diperkirakan sejak abad ke 19.

Tabuik sendiri merupakan sebuah istilah yang diambil dari bahasa Arab, yaitu Tabut yang memiliki arti Peti Kayu. Dalam perayaan Tabuik ini dilakukan berbagai prosesi keagamaan yang terkait dengan kisah keatian Hussein bin Ali bin Thalib. Hussein meninggal karena gugur dalam perang Karbala yang terjadi pada tahun 61 Hijriah.

Istilah Tabut atau Tabuik ini diambil karena sebuah kisah tentang adanya sesosok makhluk berwujud kuda dengan kepala manusia dan memiliki sayap, sosok yang disebut sebagai Buraq. Konon pada waktu itu Buraq menerbangkan jenazah Hussein bin Ali bin Thalib dengan kotak kayu yang memiliki hiasan payung mahkota ke langit.

Bedasarkan dari kisah inilah, Masyarakat Pariaman membuat tiruan dari Buraq yang sedang membawa kotak kayu atau tabut. Yang kemudian terus dilakukan secara turun temurun hingga saat ini. Tabut atau Tabuik dibuat dengan tinggi mulai dari 6 hingga 15 meter. Terbuat dari bambu dan juga batang sagu yang kemudian dibungkus dengan kertas berwarna-warni. Lalu diberikan hiasan berupa bunga kertas yang juga beragam warna.

Berdasarkan cerita dari masyarakat Pariaman, Tabuik sudah ada sejak tahun 1826 – 1828 Masehi. Pada masa itu Tabuik memang sangat kental dengan Nuansa Timur Tengah, dan memang dibawa oleh masyarakat Benggali penganut Syiah. Kemudian tradisi ini mengalami sedikit perubahan pada tahun 1910, karena permintaan masyarakat untuk menyesuaikan Tabuik dengan tradisi Minangkabau. Sehingga terciptalah sebuah tradisi keagamaan Tabuik seperti saat ini.

Secara umum, festival Tabuik ini dibedakan menjadi dua jenis. Yang pertama adalah Tabuik Pasa yang dilakukan oleh masyarakat Pariaman yang berada di wilayah sebelah selatan sungai yang membelah Pariaman. Sedangkan yang satu lagi adalah Tabuik Subarang yang dilakukan oleh masyarakan diseberangnya. Keduanya sama-sama menggunakan adat istiadat khas Minangkabau.

Festival Tabuik ini dilakukan setiap tahun di Pariaman, hanya saja ada banyak perubahan dan penyesuaian yang dilakukan karena berbagai hal. Di bawah ini adalah beberapa penyesuaian yang dilakukan dalam Festival Tabuik.

Penyesuaian Waktu Acara Dan Juga Pelaksanaan Acara Puncak

Sumber: Instagram @travelensa

Festival Tabuik tetap dimulai pada tanggal 1 Muharram yang memang tahun baru Islam. Namun untuk acara puncak, jadwal waktunya bisa berubah-ubah. Jika pada jaman dahulu acara puncaknya adalah tanggal 10 Muharram, saat ini bisa menyesuaikan sesuai dengan kondisi yang ada. Jadi bisa setelah atau sebelum tanggal 10 Muharram.

Penyesuaian Yang Dilakukan Pada Bentuk Kepala Buraq

Sumber: Instagram @larasrahardjo

Pada awal mula Festival Tabuik ini dilakukan, wujud kepala dari tiruan Buraq hanyalah sebuah pantung yang menggambarkan wujud Buraq. Namun seiring dengan perkembangan jaman, wujud kepala Buraq berubah. Saat ini wujud kepala Buraq lebih jelas menggambarkan kepala manusia. Ada yang berwujud kepala manusia dengan jilbab, ada juga yang menggambarkannya dengan bentuk kepala pria yang menggunakan topi, lengkap dengan hiasan kumis dan juga jenggot. Hal ini sebenarnya dilakukan semata-mata untuk membuat festival Tabuik lebih meriah, tanpa ada maksud untuk merubah tradisi yang sudah ada sejak jaman dulu.

Penyesuaian Bahan Yang Digunakan Untuk Rangka Tabuik

Sumber: Instagram @nurhayati777

Kerangka Tabuik pada jaman dahulu terbuat dari bambu yang telah melewati proses adat cukup panjang. Mulai dari proses siraman air, jampi-jampi atau pembacaan doa, dan ditutup dengan pemotongan ayam. Jampi-jampi sendiri dilakukan oleh Auang Tuo Adat yang kemudian berperan sebagai pawang atau dukun.

Akan tetapi pada saat ini, bahan yang digunakan untuk kerangka Tabuik tidak lagi seutuhnya terbuat dari bambu, ada juga beberapa bagian yang terbuat dari besi. Besi yang digunakan untuk membuat Tabuik tidak lagi mengalami proses yang lama sesuai adat pada jaman dulu. Penggunaan bahan besi ini bertujuan agar kerangka Tabuik lebih tahan lama, selain itu agar sayap Tabuik bisa berkepak dan terlihat lebih hidup. Tujuan dari penyesuaian ini juga untuk membuat festival Tabuik lebih meriah.

Auang Tuo

Sumber: Instagram @bajalan_taruih

Pada jaman dahulu Auang Tuo yang dipilih untuk memimpin acara festival Tabuik dipilih turun temurun secara adat. Namun saat ini hal tersebut tidak lagi dilestarikan. Semenjak festival Tabuik dipegang dan dijalankan oleh Pemerintah, Auang Tuo yang dipilih dan memimpin Tabuik adalah orang Pariaman.

Penyesuaian Prosesi Hoyak Tabuik

Sumber: Instagram @hambaa_allahhh

Hoyak Tabuik adalah sebuah prosesi dimana masyarakan menarungkan Tabuik yang sudah dibuat. Pada jaman dahulu, Tabuik yang mampu bertahan dan hanya mengalami sedikit kerusakan dianggap yang terbaik, dan meningkatkan status sosial orang yang membuatnya. Namun seiring dengan perkembangan jaman, anggapan seperti itu sudah dihilangkan. Karena Hoyak Tabuik hanya dianggap sebagai simbol dari salah satu prosesi Festival Tabuik saja.

Tidak hanya itu saja, pada jaman dahulu pada saat prosesi Hoyak Tabuik harus memakan korban luka. Hal ini untuk menggamarkan Hussein bin Ali bin Thalib ketika gugur dalam peperangan. Akan tetapi hal itu saat ini sudah benar-benar dihilangkan. Festival Tabuik mengutamakan keselamatan dari orang-orang yang melakukan dan melihatnya. Untuk menentukan pemenangnya, hanya dilihat dari seberapa parah Tabuik yang rusak.

Pelarungan Tabuik

Sumber: Instagram @wisata.sumbar

Setelah Prosesi Hoyak Tabuik selesai, kemudian Masyarakat akan melarung Tabuik tersebut ke laut. Pada jaman dahulu masyarakat menganggap sisa-sisa dari kerangka Tabuik yang dilarung ke laut adalah jimat. Sehingga masyarakat berbondong-bondong untuk mencari sisa-sisa kerangka tersebut. Akan tetapi saat ini, tradisi tersebut sudah tidak ada lagi. Tidak ada lagi masyarakat yang turun ke laut dan mencari sisa-sisa kerangka Tabuik.

Beberapa penyesuaian yang terjadi sama sekali tidak merubah tradisi dan mengurangi kesakralan dari Festival Tabuik. Bahkan dari tahun ke tahun acara ini selalu ramai, banyak pengunjung yang datang dari luar daerah bahkan luar Negeri.

Pelaksanaan festival Tabuik sendiri didukung oleh semua kalangan dan lapisan masyarakat yang tinggal di Pariaman. Tidak hanya itu saja, jika ada masyarakat Pariaman yang berada di luar kota atau luar Daerah, pada festival Tabuik akan pulang untuk ikut memeriahkannya. Jadi huforia Festival Tabuik ini hampir mirip seperti Hari Raya Idul Fitri tiba, dimana banyak masyarakat kembali ke kampung halaman untuk lebaran di rumah.

Uniknya acara ini bukan hanya dilakukan sebagai budaya dan tradisi, namun juga dimanfaatkan untuk mempromosikan wisata alam di Pariaman yang memang sangat indah. Pariaman sendiri memiliki banyak objek wisata bahari yang memukau. Jadi adanya Festival Tabuik ini menjadi salah satu kesempatan yang dimanfaatkan masyarakat Pariaman untuk mempromosikan wisata bahari yang ada di Pariaman. Mengingat banyaknya jumlah pengunjung yang datang dan menyaksikan Festival Tabuik.

 

Sumber Gambar:
instagram.com/p/BO_H8mAgyHq/
instagram.com/p/BBusgFZjPhg/
instagram.com/p/BTQcfguAl5x/
instagram.com/p/BaRTXW5Bksl/
instagram.com/p/BZxmxARHuYM/
instagram.com/p/BZz1llhn7Yr/
instagram.com/p/BZuZDlAHpCi/

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…