in

Vihara Dewi Kwan Im Bangka Tempat Ibadah Tertua Dengan Umur Hampir 3 Abad

Sumber Gambar: Youtube @EnjoyAjA GO,

Kepulauan Bangka Belitung memiliki sebuah Vihara Dewi Kwan Im tertua yang menjadi bukti bahwa Kepulauan Bangka Belitung pusat kebudayaan suku tionghoa terbesar di Indonesia. Selain itu jumlah vihara dan kelenteng yang ada di Kepulauan Bangka Belitung membuat belitung menjadi daerah dengan vihara dan kelenteng terbanyak.

Jumlah keseluruhan dari vihara dan kelenteng mencapai ±30 buah. Jumlah tersebut memang cukup fantastis mengingat luas dari Kepulauan Bangka Belitung tidak begitu luas jika dibandingkan dengan provinsi lain.

Untuk lokasi dari Vihara Dewi Kwan Im ini berada di Burung Mandi, Manggar Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung. Letak dari vihara berada di Pulau Belitung dan tidak jauh dari lokasi pantai Burung Mandi. Cara yang tepat untuk mengunjungi vihara ini dengan mobil maupun motor. Bagi wisatawan luar Bangka Belitung dapat memanfaatkan jasa sewa kendaraan sebagai akses transportasi.

Legenda Dewi Kwan Im

Sumber Gambar: Google Maps @Farras Astri

Dalam budaya china dan ajaran Buddha, Dewi Kwan Im menjadi sosok dewi yang paling dihargai dan dianggap penting serta berpengaruh terhadap ajaran Buddha. Ada sebuah kisah dari keberadaan Dewi Kwan Im. Kisah tersebut dimulai saat Dewi Kwan Im menjadi manusia.

Berdasarkan legenda yang ada, Dewi Kwan Im adalah Putri Miao Shan. Kisah tersebut, tertulis pada pertama kalinya di dalam sebuah gulungan kuno yang kini telah berumur lebih dari 1000 tahun. Gulungan tersebut bernama Xiangshan Baojuan. Keberadaan awal dari gulungan Xiangshan Baojuan terletak di Vihara Xiangshan, daerah Ruzhou.

Dalam gulungan Xiangshan Baojuan, berisi tentang kisah Miao Shan adalah anak ketiga dari Raja Miao Zhuang. Putri Miao Shan merupakan Dewi Kwan Im. Sang Raja Miao Zhuang memiliki 3 orang putri, yaitu Miao Shu, Miao Yin dan Miao Shan. Saat ketiga putri raja beranjak dewasa dan sesuai dengan peraturan kerajaan, ketiga putri harus menikah dengan orang yang telah dipilih oleh sang raja.

Sayangnya putri kecilnya, Miao Shan sama sekali tidak berminat untuk menikah dan lebih memilih untuk menjadi seorang biksu. Sang putri pun akhirnya meninggalkan kerajaan dan menetap di Klenteng Bai Que Si.

Sang Raja pun tidak tinggal diam dan menentang keras keputusan Putri Miao Shan. Hingga akhirnya Raja Miao Zhuang memutuskan untuk menghukum putri Miao Shan dengan memerintahkan para prajurit untuk membunuh putri Miao Shan.

Setelah putri Miao Shan meninggal, arwah sang putri mengelilingi neraka dan menyaksikan hukuman semua orang. Lalu putri Miao Shan pun dengan sangat tulus untuk semua penghuni neraka. Hingga akhirnya doa sang putri terkabul dan kondisi neraka menjadi sama seperti kondisi surga.

Penguasa akhirat Yan Luo Wang lalu memberikan perintah kepada putri Miao Shan untuk kembali ke dalam dunia. Lalu putri Miao Shan bangkit dari kematian dan sang Buddha muncul memberikan buah persik kepada sang putri.

Sang Buddha memerintahkan putri Miao Shan berlatih di gunung Pu Tuo. Kemudian putri Miao Shan pun pergi ke gunung Pu Tuo diantar seekor harimau yang merupakan jelmaan dewi bumi.

Lalu Miao Shan mendengar kabar bahwa ayahnya terluka parah dan hampir menghadapi kematian. Saat Miao Shan pulang untuk menyembuhkan ayahnya, tetapi telah terlambat dan sang raja telah meninggal.

Kemudian Miao Shan pergi ke neraka untuk menyelamatkan ayahnya. Saat berada neraka, Miao Shan diserbu iblis. Miao Shan pun memotong tangannya untuk dikembangkan kepada para iblis. Pada akhirnya Miao Shan berhasil menyelamatkan ayahnya.

Setelah bangkit dari kematian, Raja Miao Zhuang memutuskan untuk turun tahta dan pergi ke gunung Xiangshan bersama dengan ketiga putrinya. Mereka pun bertobat dan mengikuti ajaran Buddha.

Mendengar pengorbanan putri Miao Shan kepada sang ayah, para rakyat pun memberikan hadiah kepada sang putri berupa tangan palsu. Kemudian sang Buddha mengubah semua tangan palsu menjadi suatu kekuatan. Sang Buddha pun memberikan gelar kepada putri Miao Shan. Gelar dari Miao Shu adalah Bodhisatva Kwan Im.

Sejarah Vihara Dewi Kwan Im Burung Mandi

Sumber Gambar: Google Maps @Gio Alfaro

Vihara Dewi Kwan Im Burung Mandi didirikan pada 1747. Umur vihara ini telah hampir mencapai 3 abad. Meskipun termasuk ke dalam daftar bangunan tua, namun vihara tersebut masih berdiri dengan tegak dan kokoh. Hal tersebut juga disebabkan oleh perawatan vihara yang dijaga dengan sangat baik.

Pendiri dari vihara tersebut adalah warga tionghoa yang mendiami daerah Burung Mandi. Sebagian besar warga tionghoa tersebut memiliki mata pencarian sebagai nelayan.

Pembangunan vihara bermula dari seorang warga tionghoa menemukan sebuah patung Buddha Bodhisattva. Bodhisattva sendiri merupakan gelar dari putri Miao Shan yang diangkat menjadi dewi dengan gelar Bodhisatva Kwan Im.

Sumber Gambar: Google Maps @Papa Gaul

Saat ditemukan, setengah dari bagian patung tenggelam di dalam pasir. Penemuan dari patung Bodhisattva membuat warga sekitar percaya bahwa keberadaan dari patung merupakan perwujudan dari dewa yang melindungi daerah tersebut dari roh jahat. Tinggi dari patung Dewi Kwan Im mencapai ±12 meter. Jika dilihat dari sudut pandang patung Dewi Kwan Im, umur patung jauh lebih tua daripada umur vihara.

Sehingga dibangunlah sebuah vihara khusus sebagai bentuk rasa syukur kepada sang dewa. Dalam vihara tersebut terdapat 3 buah tempat persembahyangan, yaitu Shimunyo, Siti Mayuni dan Kon Im. Warga setempat juga percaya bahwa Dewi Kwan Im pernah bersembahyang di Kon Im.

Harga Tiket Masuk Vihara Dewi Kwan Im Burung Mandi

Harga tiket masuk ke Vihara Dewi Kwan Im adalah gratis. Jadi wisatawan dapat bebas berkunjung. Namun di viharas ini pengunjung sangat diharapkan untuk sekedar memberikan sumbangan.

Sumbangan tersebut nantinya akan dipergunakan untuk operasional vihara. Sumbangan tersebut bukan merupakan suatu kewajiban. Tetapi apabila wisatawan merasa keberatan memberikan sumbangan, juga diperbolehkan.

Tidak hanya menjadi tempat ibadah, vihara ini pun ramai dikunjungi wisatawan lintas agama yang ingin melihat kemegahan dan keindahan vihara. Dari atas vihara, pemandangan yang tersaji memang sangat indah. Anda bisa melihat perbukitan dan juga Pantai Burung Mandi serta lautan dari kejauhan.

Spot Patung Dewi Kwan Im

Sumber Gambar: Google Maps @Rinto Jiang

Vihara Dewi Kwan Im memiliki berbagai macam spot yang sangat ikonik dan sangat khas dengan untuk budaya china. Dengan warna bangunan vihara yang didominasi dengan warna merah.

Dari berbagai macam spot yang ada, ada 2 buah spot yang sangat menarik perhatian. Spot yang pertama adalah spot patung Dewi Kwan Im. Untuk mengunjungi spot tersebut, harus melakukan suatu pengorbanan fisik dengan menaiki tangga terlebih dahulu.

Jumlah total dari anak sebanyak 80 buah. Dengan jumlah tersebut dapat dipastikan cukup menguras tenaga. Di bagian tengah tangga, terdapat sebuah ukiran yang berbentuk naga china.

Naga sendiri merupakan salah satu hewan mitologi yang dianggap suci oleh suku tionghoa. Bagi suku tionghoa, naga sebagai lambang kekuasaan dan martabat. Serta ada pula yang menganggap naga sebagai simbol moral dan kekuatan serta keberuntungan.

Visualisasi / deskripsi dari naga china sangat berbeda jauh dari naga Eropa. Naga china digambarkan sebagai hewan mitologi yang mempunyai kepala kuda, bertanduk rusa, cakar seperti rajawali, badan berbentuk ular, berekor singa dan bagian seluruh punggung terdapat sirip yang tajam berbentuk segitiga.