Kisah Masjid Seribu Pintu di Kota Tangerang Banten

Warga Banten patut berbangga hati karena daerahnya terkenal sebagai salah satu aerah bernuansa Islami yang kental di bagian Pulau Jawa. Banyak sekali kisah sejarah mengenai agama Islam disana, bahkan banyak peninggalan yang juga turut membuktikan Banten menjadi salah satu tempat penyebaran agama Islam dan tak heran bila menemukan banyak sekali keberadaan masjid disana. Banyak masjid yang dibalik bangunannya menyimpan sejarah terkait penyebaran Islam dan sejarah lainnya yang sebenarnya layak untuk dikulik.
Salah satu masjid unik dan banyak didatangi peziarah tak hanya dari wilayah Banten dan sekitarnya melainkan juga peziarah dari luar kota adalah Masjid Pintu Seribu. Dari namanya pun sudah jelas tergambar bangunan masjidnya pasti memiliki keunikan selain dari sejarah yang melatarbelakanginya. Ingin tau seperti apa bentuk masjid ini? Yuk simak ulasannya dibawah ini!

Kisah Masjid Pintu Seribu 

Sumber Gambar: kabar24.bisnis.com
Masjid Pintu Seribu yang berada di Kota Tangerang ini jelas berbeda dengan masjid pada umumnya walaupun memang fungsi sama, yaitu tempat beribadah bagi umat Islam. Namun dari kisah dan bangunan masjid inilah yang membedakannya dengan masjid lain, bahkan orang awan akan menyebutnya unik bila baru pertama kali datang kesini.
Kisah bermula dari pendiri Masjid Pintu Seribu atau nama lainnya adalah Masjid Agung Nurul Yaqin yaitu Al – Fakir Syekh Mahdi Hasan Al – Qudrotillah Al – Muqoddam yang merupakan seorang keturunan Arab. Masjid didirikan sekitar tahun 1978 tanpa dana bantuan dari pihak swasta maupun pemerintah, Al Fakir ingin pembangunan masjid ini sepenuhnya dari biaya pribadi, juga ia merancang desain bangunannya sendiri dan pada proses pembangunan masjid dibantu oleh warga sekitar.Kala itu, masjid ini juga diyakini sebagai salah satu tempat penyebaran agama Islam dengan cara berbagai sembako dan berbagi kepada yatim piatu.

Bangunan Masjid Pintu Seribu

Sumber Gambar: tangselmedia.com
Berada di permukiman warga yang tergolong pemukiman padat penduduk, maka peziarah yang berkunjung mungkin akan sedikit kesulitan menemukan masjid ini. Masjid berdiri disebuah gang sehingga bagi para peziarah yang membawa mobil tidak bisa parkir persis di halaman depan masjid melainkan harus parkir sebelum memasuki gang dan lanjut berjalan kaki sekitar  sedangkan peziarah yang membawa motor bisa parkir di area depan masjid. Pertama kali melihat bangunannya pasti peziarah akan takjub sebab bangunannya seperti belum selesai dibangun dan sedikit usang.
Ada sebagian bangunan yang sudah jadi di cat berwarna hijau sedangkan bangunan yang belum jadi hanya terlihat rangkanya saja yang terdiri dari batu bata merah. Luas keseluruhan area masjid sekitar 1 hektar dan terlihat juga dari luar bahwa Masjid Pintu Seribu ini tidak memiliki kubah, hanya terdapat pilar yang berdiri kokoh sedikit meliuk yang berlapiskan keramik. Masjid terdiri dari 5 lantai, dimana baru lantai 1 – 3 sajalah yang biasanya sering digunakan baik untuk beribadah dan kegiatan yang lain.
Sumber Gambar: sintiaastarina.com
Saat pertama kali peziarah masuk ke dalam masjid maka akan diminta untuk mengisi buku tama dan memberikan sedikit donasi secara sukarela, barulah peziarah masuk melalui lorong kecil berbentuk melengkuk untuk menuju area dalam masjid. Biasanya para peziarah datang berkelompok dan untuk melihat bagian – bagian dalam masjid harus didampingi dengan pemandu yang juga merupakan pengurus masjid. Mengapa harus didampingi? Hal ini karena sesuai namanya, masjid memiliki 1000 pintu atau lorong yang bercabang sehingga bila tidak didampingi maka peziarah bisa tersesat didalamnya.
Bentuk lorong tersebut seperti labirin, temboknya terbuat dari batu bata bahkan tidak ada penerangan di tiap lorong alias gelap dan berukuran sempit sekali yakni hanya 2 x 1 meter. Lorong sengaja digelapkan bukan tanpa alasan, tujuannya yakni agar para peziarah merasakan gambaran alam kubur sehingga selepas berziarah dari masjid bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menjauhkan diri dari dosa.
Sumber Gambar: destimap.com
Bagian masjid terbagi menjadi 2, yang pertama adalah bagian paling bawah seperti ruang bawah tanah dan disinilah tempat peziarah bermusabah atau merenungkan diri mengingat kematian. Untuk bisa menuju ruang tempat musabah maka harus melewati lorong – lorong gelap dan sempit seperti yang sudah dijelaskan. Di ruang musabah pun lampu akan dimatikan sehingga peziarah bisa lebih khusyuk merenung, durasinya biasanya sekitar 15 menit saja.
Pada bagian ke 2 yaitu di area utama masjid, pengunjung bisa melihat banyak pajangan yang ditempel di dinding masjid mulai dari kaligrafi Arab, silsilah Sultan Banten dan keturunannya sampai dengan foto – foto tempo dulu. Di area utama masjid pengunjung juga akan sering melihat banyak sekali ornamen bertuliskan angka 999 yang bermakna 99 Asmaul Husna dan 9 Wali di Tanah Jawa, ornamen 999 terlihat dilukis di dinding yang bercat hijau.
Tiap musholla yang ada didalam masjid ini rata – rata diberi nama seperti Musholla Ratu Ayu yang dipergunakan khusus wanita, ada juga Musholla Fathul Qorib dan Musholla Durojatun Annasikin yang masing – masing luasnya sekitar 4 meter. Setelah memutari bagian dalam masjid, bermusabah, sholat dll maka pengunjung bisa melakukan ziarah kubur ke makam Al – Fakir yang juga berada di area masjid tersebut.
close

Log In

Forgot password?

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.