in

Pulau Nasi Tempat Menawan di Kawasan Serambi Mekkah

Sumber gambar kumparan.com

Pulau Nasi menjadi salah satu destinasi wisata Aceh yang cukup mengagumkan. Luasnya kurang lebih 2.731,87 hektar. Nama tersebut terinspirasi dari nasi bungkus yang dibawa oleh masyarakat.
Dulu, waktu yang harus ditempuh untuk sampai ke sini, kurang lebih setengah hari. Karena belum ada penjual sama sekali, mereka memiliki inisiatif membawa nasi bungkus. Ada lagi yang membawa bekal nasi, karena jarak dari Pulau Besar menuju ke tempat ini begitu lama.

Maka, warga sekitar menyebutnya demikian, tetapi ada juga yang menamakannya sebagai Pemasok, dimana menurut sejarah nama tersebut diberikan oleh Sultan Iskandar Muda. Waktu itu, beliau sedang melakukan persiapan untuk pesta pernikahan dengan Putroe Phang.

Warga sekitar mendapatkan tugas untuk menanam sayuran dan buah-buahan. Sebagai bekal melakukan pelayaran menuju Pahang. Karena, mereka mengisi bahan logistik disini maka, sebutannya adalah Peunasu atau pengisi.

Kehidupan Penduduk Pulau Nasi

Sumber Gambar: Google Maps @Silvia Giovany

Perlu diketahui bahwa, Pulau Nasi ini dihuni oleh suku asli Aceh, tetapi beberapa pula ada juga pendatang seperti Minangkabau serta Jamee. Jumlah kepala keluarga disini mencapai 397 dengan total jiwa berjumlah 1315 orang.

Mempunyai 5 Desa yaitu, Deudap, lamteng, Alue Reuyeung, Janeng serta Rabo. Perlu diketahui, mayoritas penduduknya bekerja sebagai nelayan dan petani. Salah satu keunikan disini adalah kerukunan antar umat beragama dan masyarakatnya harus diacungi jempol.

Keramahannya terhadap wisatawan bisa dijadikan contoh. Rasanya seperti mengunjungi rumah saudara sendiri. Begitu hangat dan akrab, apalagi kalau para nelayan sudah datang pasti memasak ikan dengan bumbu dan cita rasa yang nikmatnya menggoda.

Pesona Pulau Nasi

Sumber Gambar: Google Maps @Khalid Noer

Keindahan kawasan ini tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, dimana pesonanya hadir sejak pertama kali kamu menginjakkan kaki disini. Sensasi deburan ombak dan semilir anginnya memang sulit untuk terpisahkan.

Sayangnya, pantai di dekat dermaga tersebut tidak disarankan untuk mandi atau berenang karena, ada banyak sekali karang terlihat. Jika ingin melihat pesona pantai yang aduhai, bisa langsung menuju ke Pantai Nipah saja.

Sumber Gambar: Google Maps @Khalid Noer

Letaknya ada di Desa Gampong deudap. Harus diakui, airnya yang hijau memang sangat menawan. Pasir putihnya benar-benar memanjakan mata. Apalagi, kalau kamu datangnya sekitar sore hari.

Wisatawan bisa melihat panorama menarik matahari terbenam yang membuat siapa saja akan terpana melihatnya. Tidak heran, bila banyak orang yang berbondong-bondong datang dan menyaksikan keindahannya secara langsung.

Menuju ke Pulau Nasi

Perjalanan menuju ke kawasan ini dapat ditempuh melalui Ulee Lheu. Menggunakan sarana transportasi berupa kapal nelayan. dengan membayar mulai dari Rp50 ribu saja, sesuai kesepakatan.

Sebenarnya pemerintah sendiri sudah menyiapkan jadwal untuk menyeberang, sayangnya waktu tidak menentu. Jika, tidak pas, pilihan terbaik adalah perahu nelayan. Perlu diketahui bila cuaca sedang baik-baik saja, perjalanan bisa ditempuh kurang lebih 2 jam.

Tetapi, kalau sedang buruk maka, waktunya bisa mencapai 4 jam. Jangan berkecil hati, sepanjang 16 kilometer kamu akan ditawarkan berbagai pemandangan menarik, bisa melihat birunya air laut, perbukitan, dan terkadang sesama perahu yang sedang asyik memancing.

Tidak perlu khawatir kalau datang ke sini karena, sudah banyak warung makan dan minuman dengan berbagai aneka menu. Rasanya begitu menggoda mulut, walau mayoritas adalah ikan. Tetapi, bumbu yang digunakan terasa sekali mampu meresap hingga ke dalam.

Masalah penginapan, kamu bisa menginap di rumah warga dengan membayar sejumlah uang. Untuk berkeliling pulau, sudah tersedia pula tempat persewaan kendaraannya. Kawasan ini bisa menjadi pilihan tepat untuk mengisi waktu liburan kamu bersama keluarga.

Pulau Nasi mempunyai pesona yang tiada batas, dimana keindahannya benar-benar maksimal. Hanya saja, perhatikan waktu dan kondisi alam agar tidak kecewa bila cuaca buruk sedang melanda, karena tidak ada nelayan yang berani menyeberang.