in

Pulau Venu Kaimana, Rumah Bagi Penyu dan Satwa Endemik Lainnya

Sumber Gambar: mongabay.co.id

Kabupaten Kaimana, salah satu wilayah di Papua yang mempunyai surga wisata paling memukau. Keindahannya benar terjaga dan memberikan potensi terbesar untuk Pariwisata Indonesia khususnya di mata dunia.

Salah satu yang dapat dikunjungi adalah Pulau Venu. Panoramanya sudah terlihat dari kejauhan dimana wisatawan bisa melihat pohon Kasuari yang mengeliling kawasan ini sehingga, tampak seperti sebuah benteng pertahanan.

Ada banyak alasan mengapa Kamu harus berkunjung ke tempat ini. Hanya disini, wisatawan bisa melihat ratusan ekor penyu dari berbagai jenis. Tidak heran bila musim kawin tiba jumlah telurnya bisa mencapai ribuan.

Menurut penelitian dari Conservatory Internasional. Kondisi ini sebenarnya bukan tanpa alasan. Pulau Venu dinilai sebagai tempat terbaik hewan ini untuk bertelur di seluruh Asia Tenggara. Tidak heran bila jumlahnya bisa mencapai ratusan atau bahkan ribuan.

Sejarah Singkat Pulau Venu

Sumber Gambar: Instagram @abba_meny

Ada pepatah mengatakan tidak kenal maka tidak sayang. Sebelum lebih jauh eksplore keindahannya. Mari sedikit mengulas bagaimana sejarah dari tempat ini. Nama Venu sendiri berasal dari bahasa suku Koiway.

Dimana mempunyai arti sebagai pulau telur. Kondisi tersebut terinspirasi dari hadirnya telur penyu di tempat ini. Oleh karena itu, namanya diberi Venu masuk dalam kawasan Suaka Marga Suaka Margasatwa Laut.

Hal ini ditetapkan oleh kementerian Kehutanan dan Perkebunan serta Menteri Kelautan dan Perikanan. Alasannya karena hanya disini yang punya 4 ekosistem sekaligus yaitu, Terumbu karang, lamun, pantai dan manggrove

Keunikan Pulau Venu

Sumber Gambar: Instagram @yocade

Berkunjung ke tempat ini adalah sebuah kewajiban karena, ada banyak Penyu yang dapat dilihat seperti, jenis Hiju, Sisik, serta Lekang. Jika dilihat dari sisi Topografi, kawasan ini terletak di ketinggian 7 mdpl Dimana pada bagian luarnya terdapat pasir yang mengelilinginya. Biasanya, kawasan tersebut digunakan oleh para penyu ntuk bertelur.

Tidak hanya cukup sampai disitu saja, Kawasan ini juga punya berbagai spesies lain yang dapat ditemui seperti, Burung Elang,,Teripang, Keong Kepala Kambing, Bia Garu, serta Naitilus, hidup di disni. Bagaimana cukup menawan bukan?

Kawasan ini memang kosong hanya saja, banyak penduduk terutama dari Kampung Adijaya datang untuk mencari kerang sebagai hiasan atau sirip ikan hiu serta teripang dan memancing ikan. Karena, mata pencaharian mereka memang nelayan.

Satu hal paling menarik disini adalah seluruh ekosistemnya ternyata mampu meredam abrasi yang sangat kuat terjadi. Mereka seakan mampu bekerja sama dengan sehingga kelestarian alamnya memang harus dijaga.

Walaupun, beberapa nelayan terkadang masih nakal dengan menggunakan peralatan yang dilarang untuk menangkap ikan. Namun, petugas patroli juga tidak gencar dalam menangkap aksi para nelayan tersebut.

Pesona Pulau Venu yang Sulit Dilupakan

Sumber Gambar: Instagram @opiselaya

Penyeberangan menuju ke kawasan ini dilakukan dari Kampung Adijaya biasanya menempuh waktu 3 jam lamanya. Ada juga yang memulainya dari Desa Adijaya 2 dimana waktu yang ditempuh kurang lebih 1 jam perjalanan. Semuanya menggunakan perahu motor dan biasanya menyewa salah satu milik nelayan.

Untuk melihat bagaimana Penyu ini bertelur datanglah pada malam hari. Jadi, lebih disarankan untuk menginap dan membawa tenda. Tetapi, jangan sampai merusak alam sekitar dan bawa sampah kembali lalu buang pada tempatnya.

Sumber Gambar: Instagram @seiya_noge

Tidak hanya melihat prosesi bertelur jika, beruntung kamu bisa juga melihat bagaimana caranya mereka menetas. Melihat penyu kecil berlari dan berjalan/ Lucu sekali hewan ini, Ingat! Jangan dibawa pulang biarkan mereka hidup sesuai dengan habitatnya.

Untuk makanan tidak perlu takut disini Kamu bisa memancing, karena ikan disini cukup ramah jadi sangat mudah didapatkan. Usahakan bangun pagi karena, wisatawan akan disuguhkan dengan panorama matahari terbit yang sangat cantik.

Pulau Venu adalah keindahan alam Papua yang membuat Kita semua sadar bahwa, ekosistem ini harus dijaga untuk anak dan cucu nanti. Kalau sudah dibabat habis habis saat ini. Bisa saja keindahannya hanya akan menjadi mitos semata.