in

Hutan Adat Bengkayang, Bertahan dari Gempuran Pembalakan

Source Image: mongabay.co.id

Kalimantan adalah surganya hutan tropis, yang mana di pulau Borneo terdapat ribuan hektar hutan dengan flora yang beraneka ragam. Pohon-pohon tumbuh subur, dengan daun yang lebat dan batang-batangnya yang besar. Namun sayangnya, dalam beberapa dekade terakhir hutan Kalimantan yang juga menjadi paru-paru dunia mulai rusak, luas hutan berkurang drastis, akibat banyaknya pembukaan lahan untuk perkebunan dan juga pembalakan liar. Pulau Kalimantan yang dulunya terlihat hijau, kini mulai memerah dan menyisakan gelondongan kayu yang bertebaran di mana-mana.

Namun, Pulau Kalimantan masih bisa sedikit tersenyum, dengan keberadaan Hutan Adat Pikul Pengajid, atau yang kemudian juga disebut dengan Hutan Adat Pikul Bengkayang. Hutan tersebut mampu bertahan dari pembalakan liar, dan bahkan sangat dijaga oleh masyarakat Bengkayang. Suasana asri dan damai akan selalu menyertai bagi siapa saja yang coba mampir di Hutan Adat Bengkayang, ditambah dengan keberadaan suara binatang hutan yang saling bersahut-sahutan.

Lokasi Hutan Adat Bengkayang

Sumber: Instagram @adisfaradiba

Hutan adat yang satu ini berlokasi di Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Lokasinya kira-kira sekitar 6 jam perjalanan dari ibu kota Kalimantan Barat, Pontianak. Tidak susah untuk menemukan Hutan Adat Bengkayang, karena memang lokasinya yang berada di tepi jalan raya. Untuk transportasi, yang jelas tidak ada angkutan umum yang bisa mengantarkanmu menuju ke lokasi, sehingga satu-satunya cara adalah dengan menggunakan kendaraan pribadi.

Sejarah Terbentuknya Hutan Adat Bengkayang

Sumber: www.mongabay.co.id

Hutan Adat Bengkayang adalah area hutan warisan dari nenek moyang Dusun Melayang. Dikisahkan bahwa nenek moyang Dusun Melayang berasal dari daratan Malaysia, namun seperti kebiasaan Suku Dayak pada umumnya, mereka membawa sanak saudaranya mencari wilayah baru untuk kemudian didiami. Dusun Melayang sendiri lokasinya berada di ujung hutan, jumlah penghuni dusun yang satu ini semakin meningkat setelah adanya program transmigrasi dari pemerintah pada tahun 90’an.

Hutan Adat Bengkayang juga sempat terancam kerusakan, terutama saat adanya perusahaan hak pengusahaan hutan (HPH) yang semakin marak. Kabarnya, sekitar 100 hektar areal perusahaan melewati Dusun Melayang, namun para pemuda dengan gagah berani menghalang truk-truk yang bermuatan kayu-kayu besar untuk melewati kampungnya, termasuk wilayah hutan adat. Usaha untuk menjadikan wilayah hutan peninggalan nenek moyang Dusun Melayang sebagai hutan adat menemui hasil pada 15 Oktober 2002, menyusul terbitnya SK 131 2002 yang langsung ditandatangani oleh bupati Bengkayang kala itu, Bapak Yakobus Luna. Kemudian pada 20 September 2018, SK Hutan Adat dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan turun, yang diserahkan langsung oleh Presiden Joko Widodo.

Habitat Kayu Gaharu yang Bernilai Tinggi

Sumber: elnuha.net

Hutan Adat Bengkayang menjadi salah satu habitat dari kayu gaharu yang bernilai tinggi. Para warga desa diizinkan memanfaatkan kayu gaharu yang sudah roboh, untuk kemudian disuling menjadi minyak wangi. Harga minyak wangi pohon gaharu cukup mahal, satu milliliter dihargai paling rendah 600 ribu rupiah, sesuai dengan aromanya yang sangat semerbak. Pohon-pohon yang sudah roboh memang boleh dimanfaatkan oleh siapa pun, namun mereka dilarang menebang pohon jenis apa pun di Hutan Adat Bengkayang. Apabila terbukti melanggar, pelaku akan dikenakan sanksi adat.

Anggrek dengan Bau yang Wangi

Sumber: borneochannel.com

Selain itu, di Hutan Adat Bengkayang juga banyak tumbuh pohon anggrek hutan, yang mana apabila mekar akan menghasilkan bau yang sangat wangi. Namun siapa pun juga dilarang untuk memetik bunga tersebut, apa lagi mengambilnya untuk dibawa pulang.

Pohon Tengkawang yang Langka

Sumber: mongabay.co.id

Di hutan tersebut juga ditumbuhi pohon tengkawang atau meranti merah, tumbuhan langka jenis unggul yang hanya bisa ditemui di sekitar Hutan Adat Bengkayang. Ada empat jenis pohon tengkawang yang tumbuh secara alami di sana, yaitu tengkawang tungkul, tengkawang terindak, tengkawang layar, dan tengkawang pangapeg, yang masuk ke dalam suku meranti-merantian, famili Dipterocarpaceae. Kabarnya, pohon tengkawang mampu menjaga system hidrologi desa, sehingga Dusun Melayang memiliki sumber air yang sangat bersih.

Sumber: mongabay.co.id

Selain itu, biji pohon tengkawang juga bisa dimanfaatkan untuk membuat minyak nabati, cokelat, pelumas, obat, lilin, dan juga komestik. Sementara pohon tengkawang tua yang roboh, kayunya bisa digunakan untuk membuat rumah.