in

Desa Tenganan, Desa Tradisional Di Pulau Dewata Bali

Sumber Gambar: Google Maps @KM

Pulau Dewata Bali, merupakan salah satu destinasi kebanggaan milik Indonesia yang sudah sangat dikenal tidak hanya oleh wisatawan dalam negeri tetapi juga menjadi kegemaran wisatawan mancanegara. Pulau Bali merupakan salah satu destinasi wisata di Indonesia yang masih menjaga nilai kebudayaan mereka. Akan tetapi suka tidak suka tetap akan ada beberapa perubahan demi mengakomodir para wisatawan baik itu dalam negeri atau luar negeri.

Tapi semua itu tidak berlaku untuk satu desa yang berada di Pulau Dewata ini. Desa itu bernama Desa Tenganan atau dikenal lebih lengkap dengan nama Desa Wisata Adat Tenganan Pegringsingan yang terletak di Desa Tenganan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem Provinsi Bali. Desa ini berjarak 15 kilometer dari pusat Kota Amlapura dan 65 kilometer dari pusat Kota Denpasar.

Masih Menekuni Kebudayaan Yang Turun Temurun

Sumber Gambar: Instagram @jerryconneyotey

Di saat banyak desa – desa yang mulai mengikuti perkembangan jaman desa yang satu ini terkenal masih hidup dengan nilai – nilai ajaran lama. Mereka masih berpegang kukuh dengan kebudayaan yang sudah mereka jaga dan laksanakan secara turun – temurun. Aturan – aturan yang sudah mereka lakukan secara turun temurun ini mereka debut dengan “ Awig – Awig”. Dengan awig – awig inilah yang membuat desa ini tetap menjalankan kebudayaan mereka walaupun di luar sana banyak desa – desa seakan mengikuti perkembangan jaman.

Sumber Gambar: Google Maps @Olif Ross

Di saat destinasi wisata lain sudah membangun Hotel, Homestay, Villa, Restoran, Kafe hingga Club malam. Desa Adat yang satu ini masih kokoh dengan Tiga Balainya yang masih asri dan esotik, selain itu juga desain rumah – rumah yang berada di desa ini juga masih sangat kuno dan unik berbeda dengan desain rumah – rumah yang sering kita lihat saat ini.

Uniknya lagi untuk masuk ke Desa Tenganan ini kalian tidak dipatok dengan harga tertentu tetapi warga setempat membuat seuah loket yang digunakan oleh para pengunjung untuk menumbang seiklasnya. Hal ini diharapkan bisa membantu masyarakat di Desan Tenganan ini.

Kain Tenun Ikat Khas Desa Tenganan

Sumber: Instagram @redaksi9com

Desa Tenganan ini memiiki Kain Tenun Ikat yang khas dan hanya bisa kalian temukan di Desa Tenganan ini. Kain yang dimaksud adalah Kain Tenun Ikat Gringsing. Kain Tenun yang hanya bisa kalian temukan di Desa Tenganan ini memang unik karena cara pembuatannya yang masih menggunakan cara yang sangat tradisional. Kain ini dibuat dengan tangan dan tanpa ada bantuan mesin sedikitpun. Makanya tidak heran untuk membuat selembar kain tenun dengan kualitas bagus ini membutuhkan waktu yang sangat lama. Selembar kain tenun ini bahkan ada yang dibuat selama 5 tahun lamanya. Jadi buat sahabat Wisato jangan terkejut dengan harga yang dipatok untuk selembar kain tenun ikat khas Desa Tenganan ini. Karena harga yang dipatok memang terhitung sedikit lebih mahal.

Tidak hanya itu saja Teknik yang digunakan untuk menenun kain ini sendiri terhitung langka. Tercatat hanya ada tiga negara saja yang memiliki atau menggunakan Teknik menenun seperti ini. Teknik yang dimaksud ada Teknik Tenun Ganda. Kain Tenun Gringsing sendiri merupakan warisan dari kebudayaan Bali kuno dari suku Bali Aga.

Perang Pandan Tenganan

Sumber Gambar: Instagram @ajidarma2

Desa Tenganan selain terkenal sebagai penghasik Kain Tenun Grangsing, desa ini juga memiliki sebuah tradisi yang unik yaitu Perang Pandan Tenangan. Perang Pandan ini biasanya dilakukan di saat warga Desa Tenganan tengah melakukan sebuah upacara bernama “Ngasuba Kaapat” yang mereka selenggarakan pada saat “Sasih Kapat” ( bulan keempat penanggalan kalender Bali ).

Perang Pandan ini sendiri tidak hanya dilakukan oleh warga Desa Tenganan saja tetapi ada juga warga dari desa lain yang mengikuti upacara ini. Tradisi Perang Pandan sendiri mayoritas diikuti oleh para pemuda. Seperti namanya Perang Pandan adalah tradisi dimana dua orang yang sedang menari tetapi sesekali saling menyerang lawannya. Seolah olah mereka sedang melakukan sebuah pertarungan dan alas yang mereka gunakan adalah seikat pandan berduri.

Walaupun ketika sedang melakukan Perang Pandan mereka terlihat seperti menyerang sang lawan tetapi setelah selesai tidak aka nada dendam diantara mereka. Dikarenakan menurut mereka semua yang mereka lakukan ada sebagai bentuk persembahan mereka terhadap Dewa Indra.