in

Rawa Biru Sosok Manusia Sejati yang Ada di Merauke

Suasana Rawa Biru
Sumber Gambar : Beritapapua.id @Pigijo

Bukan tanpa alasan Papua dijuluki sebagai Tanah Mutiara Hitam. Tanah yang dikelilingi dengan pegunungan yang menjulang, hutan yang begitu luas dan sungai yang mengalir sampai jauh serta begitu jernih. Rawa Biru sepertinya mendapatkan anugerah kejernihan air yang ada di tanah Papua.

Mutiara Hitam julukan untuk anak papua asli dikerenakan kulit mereka yang hitam legam namun memiliki bola mata yang berbinar. Tubuh mereka yang tegap dan kuat serta bulu mata lentik sangat pantas jika mereka menyandang julukan Mutiara.

Alam di tanah Papua juga begitu indah. Sangking banyaknya keindahan alam yang ada di Papua. Kebanyakan orang menjuluki Papua sebagai Tanah Surga. Salah satu tempat indah yang ada disana adalah Rawa Biru. Tepatnya di Kabaputen Merauke di ujung selatan Papua.

Kabupaten yang dijuluki sebagai Kota Rusa ini memiliki populasi sekitar 230 ribu jiwa. Merauke disebut Kota Rusa dikarenakan hewan jenis ini banyak sekali dijumpai disini. Masyarakat sekitar sangat bergantung pada Rawa Biru dalam memasok air bersih.

Sudah penasaran apa saja yang ada di Rawa Biru? Penasaran melihat keindahannya? Baca selengkapnya di Wisato.id

Cara ke Rawa Biru Merauke

Tahan sejanak rasa penasaran traveler mengenai objek wisata ekonomi rawa ini. Sebelum kita menelisik lebih jauh keindahan Rawa Biru, ada baiknya kita membahas terlebih dahulu mengenai lokasi, jarak hingga berapa budget yang harus traveler sediakan untuk berangkat kesana.

Kita asumsikan traveler memulai perjalanan liburan dari kota Jakarta.

Pendaratan paling tepat untuk ke Rawa Biiru adalah bandar udara Mopah yang ada di Merauke. Traveler minimal melakukan 1x transit untuk perjalan ke Merauke. Dari Jakarta traveler menju Bandar Udara Hasanudin, makasar sekitar 3 jam perjalan. Lalu lanjut ke bandar udara Mopah sekitar 3,5 jam.

Jika traveler beruntung perjalanan hanya memakan waktu sekitar 7 jam. Namun seringkali waktu transit begitu lama, traveler harus menyediakan opsi jika harus menginap semalam di Makasar. Ongkos yang harus traveler keluarkan sekitar Rp 3 juta.

Dikarenakan akses jalan yang belum begitu bagus, masyarakat sekitar biasanya menggunakan ketinting (perahu kecil) untuk sampai ke Merauke. Tenang, traveler juga bisa menggunakan jalur darat kok. Waktu tempuh dari Merauke ke Rawa Biru sekitar 1,5 jam.

Disini traveler bisa menggunakan kendaraan roda empat ataupun roda dua. Jika traveler menggunakan transportasi umum, traveler cukup mengeluarkan ongkos sekitar Rp 37 ribu. Namun di Merauke juga sudah banyak jasa penyewaan mobil ataupun motor.

Jika traveler ingin merasakan sensasi berlibur yang lebih bebas, menyewa kendaraan bisa jadi opsi traveler. Namun traveler harus juga mengecek cuaca yang terjadi di Merauke. Karena jika kondisi cuaca hujan, jalan ke rawa hanya bisa dilalui kendaraan roda dua.

So, traveler harus pintar membaca situasi ya sebelum berangkat.

Suasana di Rawa Biru

Suasana di Rawa Biru
Sumber Gambar : Google Maps @Fahad Fauzan

Ketika sudah mendekati daerah perkampungan. Traveler akan disamput dengan deretan pohon bus. Sepanjang perjalanan traveler bisa mendengar nyanyian dari burung kakak Tua Jambul Kuning dan Nuri. Dikiri dan kanan jalan traveler juga akan melihat begitu banyaknya Musamus (Rumah Semut) yang dibuat oleh semut.

Masamus atau Bomi
Sumber Gambar : Detik.com @Hari Suroto

Suku Marind yang mendiami daerah ini benar-benar hidup bersama alam, sehingga mereka tidak ingin menganggu ekosistem yang ada disekitar. Karena letaknya yang ada diperbatasan dengan Papua Nugini, sebelum memasuki perkampungan traveler diharuskan melapor ke pos TNI. Petugas pos akan mengarahkan traveler menuju perkampungan.

Ketika memasuki perkampungan traveler akan merasakan kenyaman dari kesunyian alam. Bahkan traveler masih bisa meihat hewan liar. Masyarakat sekitar masih sangat mengandalkan alam untuk bertahan hidup. Mereka berburu hewan seperti, rusa, tikus tanah, babi hutan bahkan buaya sekalipun.

Dikarenakan airnya yang begitu jernih dan sangat melipah. Rawa Biru sampai saat ini masih menjadi pemasok air bersih untuk masyarakat merauke. Traveler bisa berjalan sedikit ke ujung rawa untuk melihat pompa air bekas peninggalan Belanda yang masih digunakan sampai saat ini.

Kerennya, masyarakat sekitar dan pemerintah bersinergi untuk mengembangkan rawa untuk menjadi wisata ekonomi. Traveler bisa melihat rumah-rumah warga yang ada diperkampungan dirawat dan diberikan cat warna-warni untuk mempercantik lingkungan sekitar rawa tanpa merusak ekosistem rawa.

Tidak hanya turis dalam negeri loh, setiap tahunnya perkampungan ini dikunjungi turis dari Mancangera. Rawa Biru ini persis sekali seperti manusia. Rawa yang ada disekitar perkampungan ini bisa bertransformasi loh.

Baca Juga : Pulau Bakakang Mutiara Tersembunyi di Banggai Laut

Jika musim hujan rawa akan dipenuhi dengan air yang bersih dan jernih. Namun jika dimusim kemarau, air rawa mulai surut dan rawa mengeluarkan begitu banyak bunga yang bermekaran. Proses ini mirip sekali dengan manusia yang selalu bertumbuh dan belajar.

Rawa Biru dikala Kemarau
Sumber Gambar : Megaroroajeng.blogspot.com

Jika traveler penasaran untuk melihat proses bermekarannya bunga ada disekitar rawa. Saya menyarankan traveler untuk berangkat ke Rawa Biru sekitar bulan September. Karena bulan ini rawa mulai kering.

Nah bagaimana jadi bingung untuk menambah destinasi wisata kalian?

Ikuti terus wisato.id untuk bisa mendapatkan informasi dan rekomendasi wisata terbaik di Indonesia.